Rabu, 18 Maret 2015

Pembahasan Penentuan Kadar Jeruk Metode Spektrofotometri UV-Vis



4. Pembahasan
Spektrofotometri UV-Vis adalah pengukuran energy cahaya oleh suatu system kimia pada panjang gelombang tertentu. Vitamin c atau asam askorbat merupakan bahan farmasi yang banyak dikonsumsi sebagai antioksidan. Asam askorbat dapat ditentukan dengan spektrofotometri ultraviolet pada panjang gelombangtertentu. Pada praktikum ini akan dilakukan penentuan kadar vitamin c pada sampel jeruk nipis dan jeruk buah dengan metode spektrofotometri pada panjang gelombang maksimum tertentu. Digunakan larutan asam askorbat standar  “You C1000” untuk membuat kurva kalibrasi. Sampel  “You C1000” diencerkan menjadi 100 ppm sebagai larutan induk, yang kemudian diencerkan menjadi 10 ppm, 15 ppm, 20 ppm, 25 ppm, 30 ppm. Untuk menentukan panjang gelombang maksimum digunakan larutan  30 ppm pada pengukuran Spektrofotometer UV Vis sehingga didapat panjang gelombang maksimum larutan vitamin C adalah….nm. kurva Standar asam askorbat diukur pada panjang gelombang maksimum yang telah ditentukan sebelumnya, masing- masing larutan dimasukkan dalam spektrofotometer sesuai urutan dari mulai yang terendah.
Sehingga didapat nilai absorbansi masing-masing konsentrasi larutan Vitamin C adalah
ppm
A
0.1
0.136
0.2
0.185
0.4
0.329
0.6
0.416
0.8
0.617

Setelah didapat nilai absorbansi diatas larutan nomor 1 diganti dengan jeruk buah dan nomor 2 diganti dengan jeruk nipis. Dan absorbansi yang diperoleh untuk jeruk buah sebesar….nm dan jeruk nipis adalah sebesar….nm . Dari hasil praktikum ini dibuatlah kurva kalibrasi yang digambarkan dengan sebuah garis linear
Kurva
Garis linear yang dihasilkan ini menunjukkan bahwa absorbansi adalah fungsi dari konsentrasi. Dengan mendapatkan persamaan garis linear pada grafik adalah y=…, maka konsentrasi sampel dapat dihitung. yakni didapat konsentrasi vitamin C pada jeruk nipis sebesar….ppm pada 25 ml air dan…..ppm pada 5 ml air serta sebesar….ppm pada jeruk nipis yang sebenarnya. Sedangkan  konsentrasi vitamin C pada jeruk buah sebesar….ppm pada 25 ml air dan…..ppm pada 5 ml air serta sebesar….ppm pada jeruk nipis yang sebenarnya

Kamis, 26 Februari 2015

materi debat Pembinaan bahasa daerah dilakukan seperlunya sementara itu pembinaan bahasa Indonesia dan bahasa asing wajib dilakukan lebih baik.

Pembinaan bahasa daerah dilakukan seperlunya sementara itu pembinaan bahasa Indonesia dan bahasa asing wajib dilakukan lebih baik.
Pro
Saya setuju jika pembinaan bahasa Indonesia dan bahasa asing dilakukan lebih baik daripada pembinaan bahasa daerah. Karena diera globalisasi seperti ini kita membutuhkan kemahiran yang luas tidak hanya pada skala daerah namun juga pada skala nasional bahkan internasional. Jika masih mengutamakan pembinaan bahasa daerah dan mengesampingkan pembinaan bahasa Indonesia dan bahasa asing kita tidak akan dapat bersaing di kancah internasional. Jika pembinaan bahasa Indonesia dan bahasa asing dilakukan lebih baik maka para penerus bangsa kita setidaknya mampu untuk berkomunikasi dengan orang lain dari luar daerah bahkan dari luar negeri. Pembinaan bahasa Indonesia dan bahasa asing yang lebih baik akan mempercepat pertumbuhan ekonomi Negara kita. Jika para TKI kita sebelum bekerja ke luar negeri terlebih dahulu telah mampu berbahasa asing, bukankah akan menghemat waktu sehingga lebih cepat untuk bekerja. Selain itu kemampuan berkomunikasi dengan bahasa asing yang baik juga akan mengharmoniskan antar pekerja dengan atasan mereka. Pembinaan bahasa Indonesia yang lebih baik akan meningkatkan kecintaan terhadap bahasa Indonesia sehingga kita benar-benar memaksimalkan kegunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa pemersatu.

Kontra
Saya tidak setuju jika pembinaan bahasa daerah hanya dilakukan seperlunya sementara  pembinaan bahasa Indonesia dan bahasa asing dilakukan lebih baik. Kita tidak akan memahami kebudayaan daerah kita jika hanya mementingkan pembinaan bahasa Indonesia dan bahasa asing. Bahasa daerah harus kita lestarikan sebagai simbol masing-masing daerah. Dengan mengesampingkan pembinaan bahasa daerah maka semakin lama budaya kita akan hilang.  karena tidak mengerti bahasa daerah masing masing orang cenderung mengabaikan kebudayaan yang ada disekitarnya dan tidak menyadari bahwa kebudayaan itu adalah warisan leluhur yang harus kita lestarikan agar anak cucu kita masih dapat menikmatinya. Bahasa daerah harus tetap kita lestarikan dengan memberikan pembinaan yang lebih baik. Dengan kemampuan bahasa daerah yang baik maka akan terjalin hubungan yang harmonis antar sesama keluarga, saudara dan orang lain disekitar kita. Dengan melakukan pembinaan bahasa daerah lebih baik kita dapat berbicara dengan orang yang lebih tua dari kita dengan bahasa yang lebih sopan karena dalam bahasa daerah ada tingkatan kata sesuai dengan kesopanan dan penggunaan . sedangkan pada bahasa Indonesia dan bahasa asing semua kata berlaku untuk semua orang .jadi saya tetap tidak setuju jika bahasa daerah dilakukan seperlunya sementara pembinaan bahasa Indonesia dan bahasa asing dilakukan lebih baik

Rabu, 25 Februari 2015

pembahasan asidi



Asiditas adalah kemampuan air untuk menetralkan larutan basa, sedangkan alkalinitas adalah kemampuan air untuk menetralkan larutan asam. Penyebab asiditas alkalinitas dalam air adalah H+, CO2, HCO3-. CO3 2-, dan OH-. praktikum yang kami lakukan , bertujuan untuk  menentukan asiditas dan alkalinitas dalam sampel air tanah. Prinsip pengerjaan dalam praktikum ini adalah  asiditas atau alkalinitas dalam air dinetralkan dengan basa NaOH atau asam HCl menggunakan indikator Phenolftalein atau Metil Orange.  
Untuk penentuan besar asiditas dan alkalinitas air tanah,  sampel dicek terlebih dahulu untuk mengetahui sampel air yang kita teliti bersifat asiditas atau alkalinitas. Sampel dalam labu yang ditambahkan phenolftalein tidak berubah warna sedangkan sampel pada labu yang ditambahkan metil orange  warnanya tetap orange . itu artinya sampel air kami mengandung ion-ion pembentuk asam (CaCO3 dan CO2). Jadi, sampel yang kita teliti positif asiditas dan negatif alkalinitas.
Untuk mengetahui besar asiditas air, maka metode yang digunakan yaitu metode titrasi penetralan dengan menggunakan NaOH  0,05 N, dan PP sebagai indikatornya. Karena NaOH bersifat higroskopis dan tidak stabil maka harus dilakukan standarisasi dengan asam oksalat 0,1 N. Setelah distandarisasi, volume yang didapat adalah 18,2 ml. Dan setelah dihitung, molaritas NaOH standar adalah 0,055 N. NaOH standar digunakan untuk menitrasi 100ml sampel yang telah di tambahkan indikator phenolftalein. TAT terjadi ketika warna larutan berubah menjadi pink untuk pertama kalinya. Volume yang di dapat adalah 0,8ml. Karena buret yang kita gunakan berukuran 50ml, hasil titrasi tidak valid. Paling tidak volume yang digunakan harus 10% dari volume buret. Maka, kami melakukan pengenceran NaOH menjadi 0,0055 M, dan harus distandarisasi ulang dengan asam oksalat yang telah diencerkan pula menjadi 0,01 M. Volume standarisasi kedua yang kami dapat adalah 24,6ml. Volume tersebut digunakan untuk menghitung  konsentrasi NaOH standar. Dan didapat konsentrasinya adalah 0.00406 M. Setelah didapat konsentrasi NaOH standar yang baru, kami gunakan untuk menitrasi 100ml sampel dengan menggunakan indikator PP. Hasil volume rata rata yang di dapat adalah 7,9ml setelah melakukan titrasi duplo. Volume titrasi yang didapat sudah bisa digunakan untuk menghitung besar asiditas PP air sampel. Setelah dimasukkan rumus, Asiditas PP yang kami peroleh adalah 1,25048 mg/L sebagai CO2. Reaksi yang terjadi adalah: ( dilandasan tori)
Ada beberapa faktor kesalahan dalam praktikum yang kami lakukan, diantaranya, setelah kami mendalami materi ternyata ada tahap yang belum kita lakukan yaitu menitrasi sampel  dengan NaOH dan sampel ditambah menggunakian indikator MO. Dari kesalahan tersebut, kami tidak dapat mencari asiditas MO dalam sampel air tanah, sehingga Asiditas MO yang kami dapat adalah 0 mg/L sebagai CaCO3. Faktor kesalahan lain yang mungkin terjadi ketidak telitian praktikan dalam menentukan TAT  dan ketidak telitian praktikan dalam membaca volume TAT pada buret.

biography of maldini pali



BIOGRAPHY OF MY IDOL
“ MALDINI PALI ”
         



A decade ago, Maldini Pali was just a boy who liked playing soccer in his front yard in a remote area of West Sulawesi. Today, the 16-year-old is on his way to becoming one of the country’s next big soccer players. Maldini was born on Jan. 27, 1995, in Pangkalanbun, eight hours drive from Palangkaraya, the capital of Central Kalimantan. One of his parents is from Toraja, a secluded area in South Sulawesi. His family moved to Kalimantan when Maldini’s father was offered a job on the island. Maldini is your typical kampong boy. He is quite slim, on the tall side –1.73 meters high. There is almost nothing out of the ordinary about Maldini’s features, except maybe for a dimple on his left cheek.
The Jakarta Post met him at his lodging in Tebet, South Jakarta ,last week. He had just come back from school when the Post visited him. Wearing a school uniform, Maldini approached the interview casually, even though he confessed he wasn’t used to talking with the media, despite his marvelous achievements in soccer. Maldini started by recounting how he entered the world of soccer. It
was all a coincidence, he said. Maldini explained he started playing soccer at the age of seven, just for fun. He used to play with other neighborhood kids in the afternoon. He never thought he would one day be a professional soccer player. But, fate decided otherwise. In 2005, he won a regional soccer competition in Central Kalimantan and was selected to represent the province in a youth national competition in Jakarta. Even though he failed to bring home trophies, Maldini’s life changed. He couldn’t stop playing soccer. Maldini said he was lucky his father, a soccer buff, trained with him intensively every afternoon on his front lawn. His parents have been supportive from the start, even before he was born, by naming him after a famous soccer player from Italy.
When asked why his parent picked that name, Maldini said he didn’t know. But as Indonesians believe a name is also a prayer, one may conclude his parent wished for Maldini to become a successful soccer player. And he did. Right after the family moved back to Sulawesi, a local soccer academy offered to train Maldini. “It was pure luck that my house was located near the field they used for practice. After training, they asked the kids in the area to play with them and from that, they knew I was good so they asked me to join them,” he said, explaining how he ended up joining the Manakarra soccer academy in Sulawesi. After that, nothing could stop Maldini from becoming a rising soccer star. His career took off after he participated in the Sport Minister Soccer Championship in Makassar, South Sulawesi, last year. Whilst his team didn’t win, Maldini caught the eye of Kevin Kent, a coach from the Indonesia Football Academy (IFA), a training center affiliated with the Indonesian Soccer Association (PSSI). As a result of his remarkable performance in Makassar, he was selected to play for the national team in the under 16 years old (U-16) category. He then moved to Jakarta to train intensively for four months at Sawangan, Depok, before he was flown to Uzbekistan to represent Indonesia in the Asian Cup. It was Maldini’s first time overseas. “I like Uzbekistan very much. The country is very neat and the people are friendly. I was not homesick during my three-week stay in the country,” he said with a sparkle in his eyes.
Even though Indonesia failed in the qualification round, Maldini said he had learned a lot from the competition. Maldini was given a second chance to play on an international field when IFA selected him for a one-month training program in Leicester City, the UK. With his two friends and a coach from Indonesia, he was given the opportunity to learn from experts. “It is so different from what we have in Indonesia, the pace, the discipline,” he said of the training. After these overseas experiences, Maldini now dreams of becoming a successful international soccer player. “I want to play in Barca [FC Barcelona],” he said, referring to a top soccer club from Spain, which also happens to be his favorite team. To reach his goal, the fan of Lionel Messi realizes the cannot rely anymore on coincidences, like he has in the past. “I have to practice harder, be more disciplined, pray diligently and not be arrogant,” he said. Maldini’s next goal is to win the next Asian Cup in Australia in October and train in Netherlands and Belgium next year. Given Maldini’s track record until now, it may not be hard for this village boy to become a top soccer player in the future, not only in Indonesia but also abroad.